Putra Gunung Lawu Gugat Pemeritahan, Jokowi Bukan Satrio Piningit
Jakarta – Di tengah carut marutnya ketegangan politik di Indonesia,
Putra Gunung Lawu menggugat pemerintahan yang kacau balau sekarang ini.
“Menyonsong zaman kalasuba ini mau turun, karena sudah kepentok situasi.
Keadaan sudah kacau balau, Jokowi tidak mengerti kebudayaan, kenapa dia
mau membangun Trisakti namun sekarang dirubah menjadi kabinet kerja,”
ungkap Spiritualis Ki Hardono dalam acara ritual Songsong Ratu Buwono
dan dialog yang bertema Putra Lawu Gugat Keadaan Bangsa yang Makin Kacau
Balau, Senin (22/1/2015), yang digelar Balai Penjuang Trisakti,
Jakarta.
Spritualis yang mengaku Putra Asli Gunung Lawu ini juga membantah
bahwa Presiden Jokowi satrio piningit sebagaimana dalam ramalan Jayabaya
bahwa ada tujuh masa Indonesia akan mencapai jaman keemasan. Jaman
ketujuh atau disebut dengan jaman Tikus Pithi Anoto Baris, yang artinya
pemimpin yang muncul dari kalangan orang kecil bukan anak seorang
berpangkat, bukan seorang pejabat, bukan lahir dari darah biru, tidak
mempunyai gelar apapun, namun mempunyai kemampuan membuat konsep sistem
kenegaraan guna menata bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik.
“Jokwi bukan Satrio pingit, yang namanya dipingit itu belum pernah
menjabat sesuatu sedangkan Jokowi pernah mejabat Wali Kota berati dia
tidak dipingit karea dia sudah menjabat. Dia juga sudah pernah menjadi
Gubernur, sedangkan Satrio Pingit itu belum berada dipanggung politik,
belum menjadi pejabat, bukan Jenderal, dan tidak punya titel,” ujar Ki
Hardono yang juga penulsi Buku “Nabi Adam Turun di Jawa”.
Ia pun memprediksi, dalam zaman Kalasuba pemimpin Indonesia akan
berasal dari putra Gunung Lawu asli. “Maka Putra Piningit akan berasal
dari Gunung Lawu sebagaimana saya mendapat petunjuk, hal ini juga saya
pernah lakukan tes pertama itu mengigatkan Soeharto pada tahun 1985
sebelum bintang 10 mati, hingga akhirnya Pak Harto turun meskipun itu
diturunkan bareng-bareng,” kisahnya.
“Jokowi memiliki titel Ir, dia pengusaha, sedangkan Satrio Piningit
bukan seoarang anak yang kaya, bukan seorang pengusaha. Jadi kalau sudah
menjadi Walikota berarti tidak dipingit, kalau muncul jadi Guberur
berarti juga tidak dipingit,” tandasnya.
Secara garis besar perjalanan bangsa Indonesia yang telah diramalkan
oleh Jayabaya (Raja Kediri) Indonesia akan mengalami tujuh jaman.
Sekarang Indonesia telah mengalami pergantian tujuh Presiden yang
menembus tujuh jaman itu, apakah Jokowi yang disebut-sebut orang yang
akan membawa keemasan Indonesia? ini bagian dari perdebatan yang hangat
dalam Forum tersebut.
Belum mencapai 100 hari terpilih sebagai Presiden, Jokowi masih saja
dibantah sebagai pemimpin Satrio Pingit karena selang waktu ini banyak
menimbulkan kontroversi. “Setiap keputusannya bermasalah, setiap
tindakannya digugat, setiap kebijakannya diperdebatkan, hingga apa yang
akan dia pikirkan bermasalah,” bebernya.
Hardono juga memaparkan mengenai simbol pemimpin tujuh satrio yang
disebut dengan Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu yang ditengarai sebagai
simbol pemimpin yang akan muncul nanti. “Satrio Pinandito Sinisihan
Wahyu seorang yang menguasai ilmu sosial politik, sosial budaya, dan
sosial spritual sebagaimana sosok yang tidak terikat dengan kepentingan
duniawi, yang artinya juga setiap menyelesaikan masalah selalu mendapat
petunujuk Tuhan,” terangnya.
Sosok Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu rupanya juga mempunyai senjata
Trisula Wedho, yang merupakan sosok yang mengerti mengenai masalah
sosial politik, sosial budaya, dan sosial spritual. Tatkala itu sosok
tersebut mempunyai kecerdasan intelgensi (IQ), Kecerdasan emosional
(EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Selain itu, dia ini juga ternyata
merupakan seorang tabib, olahragawan, seniman, psikolog, dan teolog,
bahkan mengerti tentang ilmu kenabian sehingga ia mampu memahami tentang
kesehatan badan, kesehatan negara, dan kesehatan ruhani. Pada intinya
mampu mensejahterakan rakyatnya baik secara lahiriah, batiniah maupun
rohaniah.
Sosok Satrio Piningit tersebut juga diterangkan dalam naskah Pustoko
Rojo sebagaimana yang tercantum dalam tulisan yang berjudul “Nabi Adam
Turun di Jawa”, bahwa ratu adil itu yang disebut dengan Satrio Muda
Taruna Sinengker Ing Yang. Merupakan perjaka muda dipingit oleh Tuhan
atau mendapat bimbingan pengetahuan, pengertian dan pemahaman dari Tuhan
disebut Satrio Piningit. Sedangkan dalam Tembang Lir-ilir diterangkan
figur pemimpin untuk memperbaiki bangsa Indonesia disebit Bocah Angon
yang berasal dari desa yang mendapat bimbingan dari Tuhan.
Selanjutnya, Ki Hardono membagi permasalahan Pancasila dalam Pusaran
Zaman Kalatida atau Zaman Edan yang memposisikan orang dalam keraguan
akan kebenaran, serta Kalasuba zaman dimana nilai-nilai kebenaran atau
spiritual akan ditegakkan di muka bumi ini.
Sedangkan dalam sudut pandang Bambang, mantan anggota MPR RI, seluruh
warga negara itu adalah orang Jawa. “Sesugguhnya seluruh warga negara
dunia adalah orang Jawa, saya bisa dikatakan bukan orang Jawa ketika
saya tidak Jawani. Orang Jawani itu melihat semuanya benar melihat
Jokowi dari depan tampangnya tidak memenuhi syarat dan sebagainya maka
beliau mengatakan itu bukan satrio paningit, tapi mas Arif melihat
Jokowi dari belakang ternyata di belakang Jokowi itu pendukungya banyak
wah ini satria,” tanggapnya.
Jadi, tegas dia, dari sisi orang Jawa tidak ada kata yang disebut
salah, semuanya benar, dan karena semua benar orang Jawa merasa tidak
pernah dijajah oleh Belanda karena orang Jawa berterima kasih kepada
Belanda gara-gara Belanda datang sehingga ada jalan dari Jawa Timur
sampai Jawa Barat.
“Kalau ada orang Jawa menggugat itu artinya sudah masuk pada kategori
dia teruji sebagai orang yang Jawani. Indonesia menggugat Bung Karno
bukan orang Jawa menggugat artinya di sini sebuah pengertian jangan ada
perasaan tersinggung kalau saya bukan orang Jawa apalagi diperkecil
menjadi putra Lawu,” ungkapnya.
Yang disebut putra Lawu, jelas dia, adalah mereka yang pernah
disentuh oleh abu vulkaniknya Gunung Lawu. Pada saat Gunung Lawu meletus
seluruh dunia terbagi abu-abu itu sehingga putra Lawu adalah putra
dunia. “Ini juga kata orang Jawa benar dan ada juga yang mengatakan
salah, menurut saya di sini tidak ada yang salah, semuanya benar,”
kilahnya.
Mantan wartawan ini juga membeberkan persoalan pengalamannya dengan
menyebut Surjono Mardani saat masih hidup pada malam hari meminta
helikopter ke Bawean dan seterusya, dan saat itu Lawu dijadikan pusat
dimana pusat-pusat simbol kekuatan yang dianggap mereka kekuatan untuk
melindungi semua pemimpin termasuk Pak Harto.
“Kalau Nabi Adam turun di tanah Jawa dan disebut tanah Jawa, Gunung
Lawu, bisa saja pengertiannya terserah orang menafsirkannya karena kata
Jawa itu sendiri memiliki sejuta tafsir, termasuk tadi Satrio Piningit
itu artinya menurut saya tergantung orang menafsirkan kata Jawa itu
memiliki sejuta tafsir,” jelasnya.
Adapun 7 jaman ramalan Jayabaya yaitu:
1. Murcane Sabdo Palon Noyo Genggong (Kerutuhan Kerajaan Majapahit)
2. Semut Ireng Anak-anak Sapi (Penjajah Belanda Masuk ke Indonesia)
3. Kebo Bongkang Nyabrang Kali (Belanda keluar dan terusir dari bumi Pertiwi)
4. Dijajah Wong Cebol Sak Umure Jagung (Penjajah Jepang Masuk ke Indonesia)
5. Pitik Tarung Sak Tarangan (Konflik dan Perang Saudara di Indonesia era Presiden Soekarno)
6. Kodok Ijo Ongkang-Ongkang (Masa Sentralistik era Presiden Soeharto sampai dengan sekarang)
7. Tikus Pithi Anoto Baris (Jaman ini belum terjadi)
Selain itu diterangkan juga bangsa kita (Indonesia) akan mengalami kejayaan setelah dipimpin oleh 7 Satrio yaitu:
1. Satrio Kinunjoro (Simbolnya Bug Karno)
2. Satrio Kesandung Kesampar (Simbolnya Pak Harto)
3. Satrio Jinumput Sumelo Atur (Simbolnya Pak Habibie)
4. Satrio Lelono Broto (Simbolnya Gus Dur)
5. Satrio Hamung Tuwu (Simbolnya Ibu Megawati)
6. Satrio Bayong Pambukane Gapuro (Simbolnya Pak SBY)
7. Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu (Simbolnya pempimpin yang akan muncul nanti)
(Asma)
sember http://obsessionnews.com/putra-gunung-lawu-gugat-pemeritahan-jokowi-bukan-putra-pingitan/